Hingga malam tiba tak sesuap nasipun masuk ke dalam perut ku, sedikitpun tak kurasakan lapar menyurung. Yg ada hanyalah luka juga perihyg memporak porandakan suasana hatiku, yg baru saja ku tentramkan dg do'a sholatku. Ku coba bangkit dari pembaringan, membuka jendela kamar. Di langit sana sabit sedang tersenyum, Akh......mungkin lebih tepat jika ku bahasakan dg menertawai. Ya....sabit itu seolah menertawaiku tapi ikut mencabik2 hati perihku dg ujungnya yg runcing.
Genap setahun kepergiannya dariku, masih membekas luka yg di torehkannya dulu. Tapi.....harus ku akui juga jika aku tak terlalu berambisi untuk membersihkan sisa bekas luka itu. Bagiku luka itu menjadi saksi sekaligus pengalaman yg akan ku angkat menjadi "GURU BESAR" untuk langkahku selanjutnya.
Kepergiannya sempat memberi warna kelabu dalam hidupku. Bagaimana tidak...cintanya sebagai tempat bersandar ternyata hanya mengelabuiku, seperti terhempas di cadas, tanpa daya aku melangkah seolah terseok2!!!!. Nasehat orang tuaku bukan hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Aku bahkan menutup telinga setiap mereka memintaku untuk bertaubat. Ya....bertaubat!!meninggalkan drugs yg memberiku sayap untuk terbang bersama impianku. Semua demi melupakan sejenak rasa sakit hatiku, juga meninggalkan urusan dunia akhiratku, sekolah terbengkalai sholat pun lalai. Yg ada hanyalah drugs, miras dan juga impian yg hanya bisa ku gapai dalam kenikmatan sesaat. Setelah kenikmatan sesaat itu usai barulah aku sadar jika ada sebuah pedang terselubung diantara kepakan sayap yg membawaku terbang selama ini. Tapi...anehnya, semakin perih pedang itu melukai ku semakin gila aku ingin terbang kembali.
Mengapa aku tak melakukan sholat. Melarikan cintaku pada Allah, Saat dia meenggutnya dariku???. Sungguh sebuah kekhilafan.
Aku tertunduk bayang kelam masa lalu itu berkelebat lagi. Seperti gelap yg datang mengurung saat senja mengakhiri tugas jaga siangnya, sementara bulan sang ratu malam belum juga muncul. Bayang masa lalu itu begitu kelam ketika ku rasakan hatiku dipaksa untuk tergores lagi. Air mataku seaakan bermuara ketika dia meninggalkanku.
"Ya Allah...jika boleh aku memilih jadikanlah aku purnama yg bisa memberi cahaya sempurna untuk sesamaku. Namun jika ku harus jadi sabit semoga terkikis oleh perjuanganku untuk mencari kesempurnaan petunjuk-Mu. Mati pun ku mau....."
Bukan atas nama luka hati apalagi dendam jika aku tak menyebut namanya dalam do'aku barusan. Hidupku yg kemarin hampir terenggut, kini ku serahkan pada Allah. Begitu juga dg jodohku.
Segalanya Untuk-Nya...............
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
assalam dek...
kamu dah pantas untuk menjadi penulis cerpen atau puisi...
kata-katamu cukup bagus dan menyentuh...
Posting Komentar