Senin, 16 Juni 2008

Menjadi Wanita Paling Bahagia

Wahai manusia yang paling bahagia dengan agama dan akhlaknya tanpa mutiara dan emas.Tapi dengan gumaman pujian-pujian yang terus mengalir deras.

Bagai rintik hujan,semburat fajar,cahaya mentari dan gumpalan awan.Dalam sujud,dalam doa,dalam muraqabah.Dalam paradigma antara sinaran Lauh dan Kitab.Dalam semburat cahaya yang menyeruak dari sebuah gua.Yang memancar dari Rasul Rabb-mu bagi segenap bangsa Arab dan Romawi.

Maka,engkau adalah yang paling bahagia di antara penghuni dunia dan akhirat.Dengan isi hati tulusmu yang dibangun dengan taqarrub.

TIDAK... Untuk perbuatan yang dapat menyia-nyiakan umurmu, seperti senang membalas dendam dan berdebat dgn sesuatu yang tidak ada kebaikan di dalamnya.

TIDAK... Bagi sikap yang lebih mengutamakan harta benda dan mengumpulkannya, ketimbang sikap arif untuk menjaga kesehatanmu, kebahagiaanmu, dan waktu istirahatmu.

TIDAK... Bagi perangai yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, menggunjing aib orang lain (ghibah) dan melupakan aib diri sendiri.

TIDAK... Bagi perangai yang suka tenggelam dalam kesenangan hawa nafsu, menuruti segala sesuatu dan keinginannya.

TIDAK... Bagi sikap yang selalu menghabiskan waktu dengan orang2 yg mengisi waktunya dgn hal2 yg tidak berguna, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk bergurau dan bermain.

TIDAK... Bagi perilaku acuh terhadap kebersihan dan keharuman tubuh, serta masa bodoh dengan tempat tinggal dan ketertiban lingkungan.

TIDAK... Bagi setiap minuman yang haram, rokok, dan segala sesuatu yang kotor dan najis.

TIDAK... Bagi sikap yang selalu mengingat-ingat kembali musibah yang telah lalu, bencana yang telah terjadi, atau kesalahan yang terlanjur dilakukan.

TIDAK... Bagi perilaku yang melupakan akhirat, yang lalai membekali dirinya dengan amal saleh untuk menyongsongnya, dan yang lengah dari peringatan tentang kedahsyatannya.

TIDAK... Bagi sikap menghabiskan harta benda bagi sesuatu yang haram, berlebih-lebihan dalam sesuatu yang mubah, dan perilaku yang dapat memangkas perkara-perkara ketaatan.



YA... Untuk senyummu yang cantik, yang mengirimkan cinta, dan mengutus kasih sayang bagi orang lain.

YA... Untuk kata-katamu yang baik, yang membangun persahabatan dan menghapuskan rasa benci.

YA... Untuk sedekahmu yang membahagiakan orang-orang miskin, menyenangkan orang-orang fakir, dan mengenyangkan orang-orang lapar.

YA... Untuk kesediaanmu selalu membaca Al-Qur'an seraya merenungi, dan mengamalkannya, sambil bertaubat dan beristighfar.

YA... Untuk kesediaanmu berdzikir, beristighfar, tenggelam dalam doa, dan senantiasa memperbaiki taubatmu.

YA... Untuk usahamu dalam mendidik anak-anakmu dengan agama, sunnah, dan nasihat yang bermanfaat bagi mereka.

YA... Untuk rasa malumu dan hijab (penutup aurat) yang diperintahkan Allah, karena hanya itulah cara untuk menjaga dan memelihara dirimu.

YA... Untuk bergaul dengan perempuan-perempuan yang baik dan takut kepada Allah, mencintai agama dan menghormati nilai-nilainya.

YA... Untuk berbuat baik terhadap orangtua, silaturahim pada saudaramu, menghormati tetangga, dan menyantuni anak-anak yatim.

YA... Untuk membaca sesuatu yang bermanfaat dengan menelaah buku yang berfaedah dan memberi tuntunan.

Sumber : Dikutip dari buku “Menjadi Wanita Paling Bahagia ” - DR. Aidh al-Qarni

Minggu, 15 Juni 2008

Andai Aku Bisa

Allah.................
Aku telah mengenal-Mu
Kini dibalik segala yg Kau karuniakan padaku
Adalah rahasia dari Cinta-Mu
Yg memenuhi semesta raya...
Karenanya sungguh aku ingin kembali kepada-Mu
Secepat kilatan cahaya
Maka bukan karna aku sakit hati
Ya Allah.....jika kemudian kuputuskan untuk benar2 hijrah
Ingin ku cari iklim yg kondusif
Untuk menempaku menjadi satu dari permata-Mu



ANDAI SAJA AKU BISA!!!!!!

Jadikan Aku Purnama

Hingga malam tiba tak sesuap nasipun masuk ke dalam perut ku, sedikitpun tak kurasakan lapar menyurung. Yg ada hanyalah luka juga perihyg memporak porandakan suasana hatiku, yg baru saja ku tentramkan dg do'a sholatku. Ku coba bangkit dari pembaringan, membuka jendela kamar. Di langit sana sabit sedang tersenyum, Akh......mungkin lebih tepat jika ku bahasakan dg menertawai. Ya....sabit itu seolah menertawaiku tapi ikut mencabik2 hati perihku dg ujungnya yg runcing.
Genap setahun kepergiannya dariku, masih membekas luka yg di torehkannya dulu. Tapi.....harus ku akui juga jika aku tak terlalu berambisi untuk membersihkan sisa bekas luka itu. Bagiku luka itu menjadi saksi sekaligus pengalaman yg akan ku angkat menjadi "GURU BESAR" untuk langkahku selanjutnya.
Kepergiannya sempat memberi warna kelabu dalam hidupku. Bagaimana tidak...cintanya sebagai tempat bersandar ternyata hanya mengelabuiku, seperti terhempas di cadas, tanpa daya aku melangkah seolah terseok2!!!!. Nasehat orang tuaku bukan hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Aku bahkan menutup telinga setiap mereka memintaku untuk bertaubat. Ya....bertaubat!!meninggalkan drugs yg memberiku sayap untuk terbang bersama impianku. Semua demi melupakan sejenak rasa sakit hatiku, juga meninggalkan urusan dunia akhiratku, sekolah terbengkalai sholat pun lalai. Yg ada hanyalah drugs, miras dan juga impian yg hanya bisa ku gapai dalam kenikmatan sesaat. Setelah kenikmatan sesaat itu usai barulah aku sadar jika ada sebuah pedang terselubung diantara kepakan sayap yg membawaku terbang selama ini. Tapi...anehnya, semakin perih pedang itu melukai ku semakin gila aku ingin terbang kembali.
Mengapa aku tak melakukan sholat. Melarikan cintaku pada Allah, Saat dia meenggutnya dariku???. Sungguh sebuah kekhilafan.
Aku tertunduk bayang kelam masa lalu itu berkelebat lagi. Seperti gelap yg datang mengurung saat senja mengakhiri tugas jaga siangnya, sementara bulan sang ratu malam belum juga muncul. Bayang masa lalu itu begitu kelam ketika ku rasakan hatiku dipaksa untuk tergores lagi. Air mataku seaakan bermuara ketika dia meninggalkanku.
"Ya Allah...jika boleh aku memilih jadikanlah aku purnama yg bisa memberi cahaya sempurna untuk sesamaku. Namun jika ku harus jadi sabit semoga terkikis oleh perjuanganku untuk mencari kesempurnaan petunjuk-Mu. Mati pun ku mau....."
Bukan atas nama luka hati apalagi dendam jika aku tak menyebut namanya dalam do'aku barusan. Hidupku yg kemarin hampir terenggut, kini ku serahkan pada Allah. Begitu juga dg jodohku.
Segalanya Untuk-Nya...............

Sabtu, 14 Juni 2008

Memory 16 November

Dua hati menyatu pada 16 November 2006
Untuk selamanya
Wahai kau tersayang
Rembulan merah diantara malam
Cahaya mentari yg terang menghangatkan
Yang terbit diantara pagi dan siang
Ku undang kau wahai kesunyian senja
Tuk mengetuk pintu hati, sepi...
Dendangkan lagu cinta
Dalam irama, terlena asmara
Seribu kalimat terucap
Tanpa sadar satu kata tlah hilang
Satu huruf terbuang
Biar aku cari dalam mimpi panjangku
Aku telah menggapai asa
Hati melagut, hening......
Ada bayang di balik hitam
Terbaca kabur tak terlukiskan
Sambut tanganku dg tangan kekarmu
Cium keningku dg kehangatan nafasmu
Biar aku terbangun,
Menatap bahwa esok terguris namamu
Dalam setiap hembusan nafasku...

Bayang Semu

Sudah berbagai cara ku gunakan
Sudah banyak waktu yg terbuang
Hanya untuk melupakan semua kenangan kita
Ternyata...........
Apa yg ku dapat??????
Hanya kepedihan dan kesedihan
Aku disini dalam kesendirianku
Merindukan sosok itu
Hadir di hidupku lagi
Merindukan saat2 dimana
Qta salinh tertawa bersama
Tapi.......
Akhirnya aku tersadar
Itu hanya sebuah "Bayang Semu"
Biarlah cinta ini tetap tumbuh dihatiku
Hanya untukmu
Selamanya..........

Kebisuan Yang Indah

Ada harapan yg bertengger
Di lidahku yg bergetar
Dan tak dapat membenuk suatu bahasa
Angan debur dan harapan
Hanya tersimpan di hati
Hingga tak cukup ada ruan untuk
Menaruh semuanya..........
Andai ada suara walau tak sekeras angin
Ku ingin kau tahu dan mengerti
Di tempat ini dan lingkungan hidupku
Masih ada bayanganmu
Dan kata harapan
Agar kau tetap menjadi sebuah rahasia di dalam hati ku..
Walau mulutku terkunci............
Ku harap dengar nafasku
Kau dapat memahami maksud dariku
Bahwa..............
"AKU CHAYANK KAMU"

KAU

Kalau masih bisa aku menatap bintang
Aku akan menanti hingga nanti
Menari dengan air mata
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan tulus sepenuh hati
Isyarat yg mengatakan kebencian
Luluh bagai lilin cair
Pertama dan untuk terakhir kalinya
Menemanimu dalam canda dan tangis
Untuk selamanya..........